Dua foto dan kabar hoaks yang telah diklarifikasi Kominfo RI. (Foto: Dok MalangTIMES)

Dua foto dan kabar hoaks yang telah diklarifikasi Kominfo RI. (Foto: Dok MalangTIMES)



Penyebaran berita-berita hoaks dan dis-informasi membuat situasi terkait kerusuhan yang melibatkan mahasiswa Papua di berbagai wilayah di Jawa disinyalir menjadi salah satu pemicu memanasnya situasi. Pakar komunikasi, Maulina Pia Wulandari menekankan pentingnya pemberitaan media massa yang akurat sebagai upaya peredam konflik. 

Pia menyoroti terkait berita soal pernyataan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko yang melebar hingga terjadi dis-informasi. Dia mensimulasikan bahwa ada kemungkinan sebagian media nasional tidak meliput langsung di lokasi. Tetapi lantas mengutip secara tidak lengkap narasi yang terjadi di daerah untuk dimintakan komentar tokoh-tokoh publik di Jakarta.

"Yang seperti itu sangat tidak bijak. Media yang tidak meliput langsung atau tidak punya kontributor, setidaknya bekerja sama dengan media lokal atau melakukan cross check pada narasumber langsung," ujar Pia. 

Hal tersebut, sambung dia, untuk memenuhi akurasi berita dan agar tidak terjadi dis-informasi yang menyebabkan isu berkembang tidak sesuai dengan kondisi riil. Pasalnya, sebuah dis-informasi bisa menyebabkan narasumber kedua atau ketiga salah menangkap maksud narasumber pertama. "Yang ditanya komentarnya pun mungkin akan bingung dan mereaksi sesuai yang dia terima dari wartawan. Disini pentingnya ada cross chek, baru minta komentar. Supaya nggak makin simpang siur," tegas dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) Malang itu.

Dia menekankan bahwa arah pemberitaan media dapat mempengaruhi masyarakat secara langsung. "Kalau nggak tahu sesungguhnya seperti apa di lapangan, media malah jangan memanaskan suasana. Harus memberikan info yang baik dan untuk meredam suasana. Fungsi media kan untuk mengabarkan yang benar di antara ketidakpastian yang beredar," tuturnya.

Perempuan yang juga dikenal sebagai fashion designer tersebut juga berharap masyarakat lebih bijak dalam menanggapi informasi. "Sudah saatnya masyarakat harus semakin bijak, teliti sumber berita, dibaca seksama dan ditimbang dulu atau istilahnya saring sebelum sharing," imbaunya. 

Dia juga melihat bahwa persebaran berita hoaks patut dicurigai sebagai upaya oknum-oknum tertentu yang ingin memanaskan situasi. "Fenomena hoaks ini bisa jadi ada pihak-pihak yang ingin ricuh, memancing di air keruh. Dia memancing respons negatif dari kedua belah pihak, jadi jangan mudah dipercaya," sebutnya. 

"Kalau membaca berita, jangan langsung emosional, pakai kepala dingin. Untuk pihak-pihak yang terkait pun, sebelum saling berkomentar baiknya duduk bersama dan bicara baik-baik," tambahnya. Pia juga menambahkan terkait imbauan yang disampaikan Presiden Joko Widodo dan Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang minta masyarakat untuk menahan diri dan saling memaafkan. 

Seperti dilansir di laman website resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, ada setidaknya dua hoaks yang beredar terkait mahasiswa Papua. Pertama, foto mahasiswa Papua yang tewas dipukul aparat di Surabaya. Kedua, Polres Surabaya menculik dua orang pengantar makanan untuk mahasiswa Papua. 

Penjelasan foto pertama, beredar foto dan informasi adanya seorang mahasiswa Papua di Surabaya yang meninggal dunia akibat dipukul aparat TNI-Polri. Mabes Polri melalui akun media sosial Divisi Humas Polri memberikan klarifikasi. Menurut Polri, foto itu hoaks. mereka menjelaskan bahwa foto tersebut adalah foto korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal di TKP laka lantas, di Jalan Trikora tepatnya di depan TK Paut DOK V Atas Distrik Jayapura Utara, Selasa (19/2) pukul 07.30 WIT.

Penjelasan foto kedua, beredar kabar adanya penculikan dua orang mahasiswa yang ditangkap hanya karena mengantarkan makanan untuk penghuni asrama mahasiswa Papua yang dikepung yang dilakukan oleh Polres Surabaya. Kasat Intel Polrestabes Surabaya AKBP Asmoro membantah terjadinya penculikan. Ia menjelaskan, kepolisian hanya mewawancarai dan memeriksa kedua orang tersebut.


End of content

No more pages to load