Dosen FISIP UB Akhmad Muwafik Saleh SSos MSi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Dosen FISIP UB Akhmad Muwafik Saleh SSos MSi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Kejadian demi kejadian tentang Papua, mulai dari demo  Papua merdeka hingga kerusuhan di Manokwari dan Sorong, akhir-akhir ini menjadi perbincangan panas. Lantas bagaimana nasib Papua apabila benar-benar merdeka?

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang Akhmad Muwafik Saleh SSos MSi berpendapat, Papua justru kuat karena masih berada di bawah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

"Papua kuat karena Papua masih berada di bawah NKRI. Pada saat dia keluar dari NKRI, maka dia akan dimangsa oleh negara-negara lain," ujarnya.

Dikatakan, apa yang membuat negara lain saat ini tidak berani mengambil alih Papua ialah karena masih ada kekuatan besar, yaitu Indonesia.

Penanaman mindset agar Papua merdeka itu sendiri sebenarnya salah. "Mindset merdeka itu sebenarnya adalah ada invisible hand yang memainkan isu itu, yang dia berkepentingan atas tanah Papua yang sangat kaya," terang pria yang juga menjabat sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan FISIP UB tersebut.

Mahasiswa Papua juga perlu diberi pengertian akan hal ini. Menurut Muwafik, perlu ada persuasi intelektual kepada para mahasiswa Papua. Sebab, bisa jadi mahasiswa melakukan tindakan-tindakan anarkis karena ruang-ruang dialog tertutup.

"Oleh karena itu, perlu ada persuasi intelektual. Menyakinkan kepada mereka bahwa keinginan merdeka itu sebenarnya melemahkan kekuatan mereka," tandasnya.

Persuasi ini tidak cukup hanya sekali atau dua kali saja. Dan salah satu yang bisa dilakukan yakni melalui perguruan tinggi yang turut mendidik mahasiswa-mahasiswa Papua.

"Kami di UB terhadap mahasiswa afirmasi, yaitu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari daerah-daerah tertinggal, daerah pinggiran, kami lakukan persuasi itu. SDM harus kuat, intelektual dia harus kuat, agar dia bisa kelola daerahnya sendiri, berada di dalam bangunan besar NKRI," beber Muwafik.

Jadi, perguruan tinggi di manapun harus lebih peduli dan turut memainkan peran. Termasuk juga perguruan tinggi swasta yang juga menampung anak-anak Papua. Mereka harus lebih intensif lagi melakukan pembinaan. "Jangan hanya sekadar menerima dari Papua tetapi kemudian tidak dilakukan pembinaan itu," imbuhnya.

Selama ini, Muwafik melihat ada kecenderungan yang seperti itu, yakni mahasiswa Papua masih digeneralkan. "Harusnya anak-anak Papua dikelola, kemudian yakinkan mereka, beri persuasi mereka bahwa mereka akan semakin tambah kuat dengan NKRI," pungkasnya. 

 


End of content

No more pages to load