Barang bukti nomor ponsel yang disita Polres Malang dalam kasus penipuan berskala internasional (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Barang bukti nomor ponsel yang disita Polres Malang dalam kasus penipuan berskala internasional (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



Modus yang digunakan para pelaku penipuan kini semakin bervariasi. 

Tidak hanya itu saja, para komplotan penipuan saat ini juga tidak hanya melibatkan peran dari para pelaku yang tinggal di dalam negeri (Indonesia). 

Namun beberapa WNA (Warga Negara Asing) juga turut serta dalam aksi penipuan guna meyakinkan setiap korbannya.

Hal itu disampaikan langsung Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung. 

Terbukti pada awal pekan lalu, tepatnya pada Senin (12/8/2019) jajaran kepolisian Satreskrim Polres Malang berhasil membekuk 2 pelaku kasus penipuan berskala internasional.

Dua tersangka yang diamankan petugas adalah Rina Liffriyanti warga Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang dan satu pelaku lainnya yang merupakan warga Nigeria, dia adalah Ekene Ugwuanyi.

”Dua tersangka yang baru saja kami amankan ini, merupakan dua pelaku dan komplotan penipuan internasional yang diperkirakan terdiri dari 4 orang. Saat ini tim sudah dikerahkan untuk melakukan penyelidikan akan dua pelaku lainnya yang masih berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang). Identitas kedua pelaku yang masih buron tersebut sudah kami ketahui, semoga lekas tertangkap,” kata anggota Polri yang akrab disapa Ujung ini.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, kedua tersangka diamankan polisi saat keduanya berada di Kecamatan Beji, Kota Depok. 

Kedua tersangka yang bernama Rina dan Ekene ini merupakan sepasang kekasih. 

Keduanya resmi berpacaran sekitar dua tahun lamanya, sebelum akhirnya diringkus polisi karena kasus penipuan.

Terungkapnya kasus ini bermula dari laporan yang diterima Polres Malang dari seorang korban yang berinisial AM warga Kelurahan Kemantren, Kecamatan Jabung. 

Dalam laporannya pada akhir bulan Juli lalu, korban mengaku jika dirinya baru saja menjadi sasaran penipuan online. Total kerugian yang dialami korban mencapai Rp 36 juta.

Kronologi penipuan yang dialami pria 30 tahun itu, bermula saat dirinya berkenalan dengan seorang wanita dari salah satu jejaring media sosial (medsos). 

Ketika berkenalan, salah satu pelaku yang terlibat dalam jaringan penipuan berskala Internasional ini mengaku bernama Tonia Rawson. 

Kepada AM, perempuan itu mengaku jika dirinya bekerja sebagai Dokter Genelogis di Lenox, Newyork, USA.

Dari perkenalan tersebut, keduanya sempat bertukar nomor WhatsApp. 

Dua minggu berselang, pelaku yang mengaku bernama Tonia Rawson tersebut mengatakan jika dirinya mengirimkan hadiah kepada korban dan ibunya.

Hadiah yang dipaketkan kedalam sebuah koper itu, diakui pelaku berisi uang senilai 34.600 Dolar USA atau setara dengan Rp. 468 juta. 

Guna meyakinkan sasarannya, pelaku Tonia mengirim foto koper dan link cargo guna mengecek kedatangan barang fiktif tersebut.

Jika korban membuka situs link abal-abal yang dikirim pelaku, maka akan terlihat jika paketan miliknya telah tiba di Indonesia beberapa hari setelah dikirim pelaku Tonia. 

Ketika itulah tersangka Rina akan menghubungi korban dan mengaku sebagai petugas cargo dari Indonesia. 

Sedangkan tersangka Ekene mengaku sebagai agen resmi yang ditunjuk untuk mengawal paketan tersebut.

”Kedua tersangka meminta kepada korban untuk meneransfer sejumlah uang, jika paketan tersebut ingin segera dikirimkan. Total Rp 36 juta yang dikirim korban kepada komplotan penipuan ini, diakui pelaku untuk biaya pengiriman paket, cukai, asuransi, hingga sertifikat khusus,” terang Ujung kepada MalangTIMES.com.

Perwira polisi dengan dua melati di bahu ini menambahkan dari hasil penyidikan polisi komplotan penipuan berskala Internasional tersebut, menggunakan nomor handphone dari salah satu operator. 

”Sejauh ini penyidik mengamankan sedikitnya lima nomor yang digunakan pelaku sebagai sarana untuk melakukan tindak penipuan. Komplotan ini sengaja memilih operator yang menyediakan banyak bonus serta harga yang terjangkau untuk mengakses internet, telepon dan SMS,” imbuhnya.

Belakangan diketahui, kelima nomor tersebut adalah sebagai berikut: 0877 7554 4741, 0878 8269 5828, 0878 8263 9589, 0877 7554 4978, dan terakhir adalah nomor 0877 7554 4943. 

”Saya imbau jika pernah mendapat pesan baik melalui media chatting, SMS, maupun telepon dari nomor tersebut segera laporkan kepada polisi, nanti akan segera kami telusuri siapa pelaku yang terlibat dalam kasus penipuan yang baru saja kami ungkap,” imbau Ujung.

Selain mengamankan kelima nomor tersebut sebagai barang bukti polisi juga mengamankan beberapa perangkat elektronik yang meliputi laptop hingga handphone

Selain itu beberapa buku tabungan, kartu ATM, serta berbagai berkas dan dokumen penipuan juga disita polisi sebagai barang bukti.

”Kasusnya masih dalam tahap pengembangan, dari penuturan dua tersangka yang sudah kami amankan mereka mengaku jika kedua temannya yang saat ini masih buron merupakan WNA. Dalam komplotan penipuan ini, dua pelaku yang masih DPO berperan sebagai Tonia yang bertugas mencari dan berkenalan dengan korban melalui medsos,” tutup Ujung sembari mengatakan jika kedua tersangka yakni Rina dan Ekene dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan yang di juncto-kan dengan Undang-undang ITE.


End of content

No more pages to load