Ditanya Penjelasan Hujan di Musim Kemarau, Jawaban Admin BMKG Bikin Baper

Cuitan akun Twitter resmi BMKG yang mengundang beragam respons warganet. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Cuitan akun Twitter resmi BMKG yang mengundang beragam respons warganet. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

LUMAJANGTIMES, MALANG – Meski tengah berada di musim kemarau, beberapa daerah di Indonesia masih mengalami hujan, termasuk di Kota Malang. Selama tiga hari terakhir, hujan turun dengan intensitas sedang pada saat siang menjelang sore. Fenomena tersebut membuat banyak orang penasaran. 

Salah satu warganet asal Solo yang penasaran bertanya melalui akun Twitter resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait masih adanya hujan di musim kemarau. "Pak, musim kemarau kok di Solo masih ada hujan ya," tulis akun Odie Ardhia pada akun BMKG. 

Tak dinyana-nyana, jawaban dari admin BMKG justru membuat warganet bawa perasaan alias baper.  "Ada hujan saat musim kemarau itu normal, biasanya curah hujannya di bawah 500 mm. Jadi bukan berarti kemaraunya batal yah. Ada kerikil dalam sebuah hubungan itu wajar, bukan berarti gagal yah," tulis akun resmi @infoBMKG hari ini (5/7/2019). 

Sontak saja, jawaban yang membandingkan hujan di musim kemarau dengan kerikil dalam hubungan percintaan itu mendapat beragam tanggapan warganet. 

Tak sedikit tanggapan yang menghubungkan air dengan perasaan. "Hujan masih air dan dia masih milik orang lain," tulis akun @margarettadvi. Cuitan bernada galau lainnya ditulis pemilik akun Alpha. "Hujan masih air, kenangan masih mengalir," tulisnya disertai emoticon menangis. 

Ada pula warganet yang menyebut bahwa akun BMKG puitis dan budak cinta (bucin). "Apakah syarat menjadi admin BMKG harus puitis," tanya akun Muhammad Fahreza Aditya. "Admin BMKG sepertinya terkena syndrome bucin," tanggapan akun Rafsanma. 

Melalui rilisnya, BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Bahkan, beberapa daerah masih memiliki potensi hujan tinggi. Yakni curah hujan lebih dari 200 mm dalam 10 hari dengan peluang lebih dari 70 persen. Daerah tersebut meliputi Sulawesi Tengah dan Papua.

Sementara itu, monitoring hari tanpa hujan (HTH) menunjukkan sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara memiliki potensi kekeringan meteorologis (iklim) dengan kriteria panjang hingga ekstrem. Untuk sebagian besar wilayah Jawa Timur, diperkirakan memiliki curah hujan rendah atau kurang dari 20 mm dalam 10 hari. 

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top