Nenggak Miras Di Artha Gama, Imbasnya Sering Merusak Lampu Taman Hutan Kota

Petugas dari DLH ketika memperbaiki lampu hutan kota pasca dirusak warga (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES
Petugas dari DLH ketika memperbaiki lampu hutan kota pasca dirusak warga (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES

LUMAJANGTIMES – Mangkraknya Pasar Artha Gama yang sudah lama ditinggalkan para pedagang menyebabkan kawasan tersebut sering digunakan  untuk tempak mabuk-mabukan oleh sejumlah remaja. Ini terjadi baik siang maupun malam hari.

Ketika media ini datang Pasar Artha Gama sedikitnya ada lima pemuda yang sedang nongkrong di Pasar Artha Gama dengan sebotol minuman yang dikemas dalam botol bekas air mineral.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang Ir. Yuli Haris mengakui bahwa selama ini sejumlah lampu taman di hutan kota yang letak bersebelahan dengan Pasar Artha Gama sering ditemukan dalam kondisi pecah karena sengaja dirusak oleh orang tak dikenal.

“Petugas kami di lapangan sering menemui lampu taman di hutan kota dalam kondisi pecah karena sengaja dirusak. Kami menduga pelakunya adalah remaja yang suka menenggak miras di Pasar Artha Gama yang tak dipakai selama ini,” kata Yuli Haris.

Yuli Haris juga mengatakan, kejadian rusaknya lampu di hutan kota bukan sekali saja terjadi. Namun sering kali kembali terulang setelah pihak DLH melakukan perbaikan. DLH sangat menyayangkan hal ini, karena pihaknya beberapa kali diganti tetap saja berujung dengan perusakan yang sama dan terus berulang.

“Pasar Artha Gama ini memang bukan tanggungjawab DLH, tapi jika itu dibenahi saya yakin imbas positifnya juga akan dirasakan oleh hutan kota. Setidaknya fasilitas kami yang ada disana akan aman dari perusakan tangan-tanga jahil,” jelas Yuli Haris kemudian.

Sementara Warganet Lumajang yang mengetahui kondisi Pasar Artha Gama pasca media ini menulis kondisi miris dari penampungan PKL tersebut mendesak pemerintah segera melakukan revitaliasi terhadap pasar Artha Gama agar tidak menjadi kumuh, yang justru dimanfaatkan untuk kegiatan negativ oleh sebagian warga.

“Ayo ditata lagi Artha gama iso sinkron dengan hutan kota yg kebetulan bersebelahan lokasinya menggabungkan konsep ruang terbuka hijau RTH dengan Kuliner. Konsep kuliner yg bersahabat dengan alam harusnya bisa diterapkan,” tulis Gunawan atau Oen Oen dalam sebuah kolom komenter di media sosial Facebook.

Pewarta : Moch. R. Abdul Fatah
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Lumajang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top